Rabu, 23 Juni 2010

masih teringat cerita 4 tahun silam tentang DIA dibenakku ini

kali ini aku ingin bercerita tentang idola yang terus aku idolakan sepanjang masa dia adalah sosok alm. ibuku. dialah yang melahirkan, membesarkan, dan mendidikku menjadi orang yang berguna untuk keluarganya disuatu hari kelak. ibuku selalu berjuang untuk melawan kerasnya kehidupan ini, pantang menyerah untuk  membahagiakan keluarganya. di suatu hari tubuhnya mulai terasa sakit diserang penyakit ganas yaitu kanker usus besar, dan mulai menjalani pengobatan d rumah sakit kanker ternama di jakarta.

setiap beberapa bulan sekali ibuku menjalani kemoterapi dan operasi, namun dalam masa pengobatan ibuku masih menjalani aktivitas seperti biasanya yaitu mengurus anak-anaknya, urusan rumah tangga  dan juga pekerjaan kantornya.

terkadang ibuku harus pulang pergi pekanbaru - jakarta untuk melakukan pengobatan. dokterpun terkadang menganjurkan untuk menetap saja di jakarta namun ibuku tidak pernah mau mendengar apa yang dianjurkan oleh sang dokter. karena ibuku tidak mau anak-anaknya kuatir dengan penyakit yang dideritanya. terkadang anak-anaknya menyuruh agar maminya dirawat di rumah sakit tersebut sampai betul-betul sembuh.

ibuku  bilang "malahan sakit mami makin parah kalau tidak melihat muka anak-anak mami (terharu sampai mengeluarkan air mata) *lebay banget ya diriku ini*. selama masa pengobatannya  ibuku masih juga bekerja untuk mencari sesuap nasi, padahal pimpinan perusahaan tempat ibuku bekerja menyuruh untuk berobat dulu kalau sudah benar-benar sembuh baru lah kembali bekerja lagi. prinsip ibuku selagi masih bisa dikerjakan kerjakanlah jangan pernah untuk mengeluh menjalani kehidupan ini. ini lah yang bikin aku sangat mengidolakan beliau.

sampai disaat aku lulus SMA tepatnya di tahun 2005 aku mulai  yang merawat dan menemani ibuku dari mulai  mengantar dia pergi dan pulang kerja sampai menemani ke jakarta untuk kemoterapi.
pendek cerita selama 3 tahun berjalan ibuku melakukan kemoterapi sebanyak 25 kali dan operasi 2 kali yaitu operasi pengangkatan usus yang telah infeksi oleh tumor dan pengangkatan rahim. dan juga melakukan penyinaran laser juga sebanyak 25 kali (itu seingat saya). yang namanya kemoterapi itu sangat lah keras terkadang kalau fisik pasien yg ingin d kemoterapi tdk kuat terkadang baru 2kali melakukan kemoterapi sudah tidak kuat. bisa mengakibatkan kerontokan pada rambut dan muntah-muntah, herannya ibuku tidak merasakan itu dia kuat melakukan kemoterapi tersebut. rambutnya pun tidak mengalami kerontokan sampai botak, malahan rambutnya masih lebat saja. itu mungkin karena semangatnya ingin sembuh dari penyakit yang di deritanya...

suatu hari pemeriksaan berlanjut, terjadi komplikasi diliver ibuku juga ada kanker ganas tumbuh padahal udah sempat disinar berulang" kali..
namun ibuku bersikeras untuk terus bekerja padahal kondisinya sudah sangat buruk. itu saja kalau lagi berjalan beberapa langkah sudah terasa cape atau sesak di akibatkan liver yang tidak bekerja normal lagi seperti layaknya orang sehat. ibuku juga sempat dirawat di rumah sakit ternama d pekanbaru dan d beri rujukan kembali untuk berobat ke rumah sakit kanker di jakarta..

dan  berangkatlah aku beserta papiku dan adik dari ibuku untuk menemaninya  berobat ibuku lebih lanjut. seminggu kemudian dokter yang merawat ibuku berkata kami sudah pasrah dengan penyakit yang menyerang ibuku. padahal hari itu ibuku masih terlihat seperti orang sehat biasanya.
tapi itu mungkin ibuku harus terlihat sehat di depan keluarganya padahal dia merasakan sakitnya luar biasa, seakan dia tidak mau melihat keluarganya sedih dengan kondisinya sekarang. malam harinya di rumah sakit tersebut ibuku berkata dia tidak ingin berobat lagi kepengen pulang kerumah. sudah cape menjalani pengobatan, mungkin disaat inilah ibuku menyerah, dokterpun melarang ibuku untuk pulang kerumah tunggu bebrapa hari lagi. namun ibuku sudah bersikeras untuk pulang sampai-sampai suaminya alias papiku di marahinnya untuk mengurus surat-surat kepulangan besok harinya. papiku panik dan besok paginya papiku buru-buru mencari tiket untuk pulang ke pekanbaru. pada malam itu juga aku ditemani temanku yang bernama sumardi disitulah sumardi melihat terakhir kalinya wajah ibuku..

semua sudah diurus untuk kepulangan kami ke pekanbaru. dari rumah sakit kanker d jakarta kami d antar ke bandara menggunakan mobil ambulan. sesampai d bandara mobil ambulannya langsung menuju pintu pesawat, sampai-sampai aku tidak perlu lagi menunggu d ruang penunggu penerbangan. nyampainya di pekanbaru kondisi ibuku sudah lemas tak berdaya tak ada satupun kata yang keluar lagi dari mulutnya. selama 3 hari d rumah aku selalu d samping ibuku tidak pernah beranjak dari kasurnya. tak henti-hentinya aku memanjatkan doa untuk kesembuhan ibuku, pada malam jum'at dipanggillah ustad kerumahku untuk membacakan doa semacam d rukiyah gitu. pada malam itu seluruh badan ibuku sudah terasa sakit namun ibuku tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata dari mulutnya dia menggunakan isyarat kalau ingin menyuruhku mengusap-usap punggunya. mulai malam iku aku slalu d sampingnya dan memeluk erat tubuhnya tak ingin rasanya melepaskan pelukan itu. sempat iya ingin mengatakan sesuatu padaku namun itu semua tidak bisa, sampai saat ini aq masih penasaran apa yg ingin dia katakan padaku.. :'(
sampai-sampai kalau aku beranjak dari sampingnya pasti ibuku teriak-teriak seperti orang gagu..

dihari jum'at setelah sholat subuh seluruh sanak keluarga telah berkumpul dikamar ibuku yang kecil sambil melafalkan doa-doa kepada ibuku, tak sengaja aku memegang kaki ibuku apa yang ku rasa kaki ibuku sudah mulai dingin yang luar biasa, saat itu aku mulai panik dan tak tau harus berbuat apa. gejolak jiwa ingin marah, kesal, dan tidak mau menerima apa yang terjadi udah ada saat itu tapi aku masih bisa menahan semuanya agar untuk sabar. pagi pun kian datang, jam setengah tujuh pergilah aku mengantar adikku yang paling bontot untuk sekolah. sebenarnya dia tidak ingin bersekolah hari itu namun karena ada ulangan makanya ia ingin bersekolah juga. sesampai aku di rumah sanak keluarga makin banyak datang dan kondisi ibuku kian memburuk, aku pun kembali berada disamping ibuku saat itu. seluruh kujur tubuh ibuku mulai dingin aku pun mulai kalut tak karuan namun aku mencoba untuk menahannya. aku pun mulai menyandungkan doa-doa ditelinganya. sempat ia mengikuti kalimat syahadat yang aku ucapkan. tepat jam 08 lebih 10 menit ibuku menghembuskan nafas terakhirnya. saat itulah meledak gejolak emosi, amarah yang aku tahan, seakan aku tak menerima cobaan apa yang ALLAH berikan kepada keluargaku. setelah itu jenazah ibuku dimandikan, aku sudah tidak kuat lagi melihat jasad ibuku yang sudah terdiam kaku. aku menyendiri dikamar untuk menguatkan apa yang telah terjadi saat itu. setelah selesai dimandikan ibuku dikapani dan aku pun mulai di panggil untuk melihat muka ibuku dan mencium keningnya untuk terakhir kalinya. sebenarnya aku tidak kuat lagi tapi aku berusaha untuk tidak bersedih di depan jenazah ibuku. namun apa daya setelah aku mencium kening ibuku tangisan itu kembali meledak tak kuasa menahannya.

setelah sholat jum'at dlanjutkan dengan menyolatkan jenazah ibuku, aku saat itu sangat senang karena banyak yg ingin ikutan menyolati alm. ibuku. dan mulailah menuju ke pemakaman. tak sanggup aku ingin bercerita lagi, emang udah abis aja ceritanya. eheheeeee... :p (tgl pembuatan 23 juni 2010)

10 maret 2006 08:10 WIB

Sabtu, 05 Juni 2010

|I| ♥ |A|D|V|E|N|T|U|R|E|

kangen berdiri di puncak gunung, menyaksikan matahari terbit dan terbenam kembali dengan suasana yang berbeda. menatap dunia dari puncak-puncak tertinggi, terkadang bagaikan berdiri diatas permadani awan yang maha luas dan menjadi pengalaman yang tidak ternilai harganya. udara bersih yang dihirup tidak terlupakan, dan semua hal lain yang dirasakan selama perjalanan.

Minggu, 30 Agustus 2009

Keindahan bagi pendaki gunung. Bukanlah saat ia berada dipuncak. Melainkan justru perjuangan menuju puncak. Itulah perjalanan yang terinda.

Sang Pendaki

Perjalanan ini masih menyisakan begitu banyak amanah yang harus diselesaikan….
Berawal dari peralihan kondisi dari situasi yang gelap gulita menuju terang-benderang. Terlahirlah pada waktu itu seorang anak manusia di tengah-tengah awan dinginnya malam dengan pengharapan yang begitu besar. Waktu demi waktu dan masa demi masa tumbuhlah ia menjadi seorang anak yang nakal dan keras kepala. Beberapa tahun berlalu begitu singkat hingga anak tersebut telah menjadi seorang remaja. Namun ada hal yang sama sekali berbeda dengannnya, selama waktu berjalan dia berubah menjadi orang yang pendiam, suka menikmati kesendiriannya, cenderung tertutup, dan jarang berterus terang. Hingga sebuah pengharapan dan cita-cita merasuki jiwanya. Tekad yang tak pernah redup membuat segalanya tercurahkan  untuk mendapatkan dan menjadi yang terbaik. Berbagai halangan dan rintangan menghantui jejak langkah yang sunyi. Impian dan cita-cita tak pernah hilang dan senantiasa datang silih berganti.
Harapan akan suatu pagi yang hangat dan cerah membuat hati tak pernah redup memikirkan indahnya suasana pagi. Namun kegelisahan dan perasaan takut terus menghantui diri yang lemah. Situasi ini diperparah dengan kekuatan yang tidak seperti dulu, namun perubahan haluan dengan penguasaan akan kekuatan diri seperti dulu menjadi kekuatan yang besar untuk mendapatkan segalanya. Pengharapan yang besar menjadi kekuatan dalam transformasi diri menjadi seorang yang terbuka, asertif,  dan berfikir untuk mendapatkan solusi terbaik dari kehidupan yang dilalui. Perjalanan terjal lagi mendaki menantikan gilirannya untuk menjadi saksi atas torehan tinta kehidupan dan yang akan terkenang selamanya. Kerinduan akan semangat dan keinginan yang kuat tidak akan pernah berhenti selama masih bisa bernafas, dan selama lilin masih bisa menerangi dengan cahayanya yang menyinari.
Harapan itu masih ada….!!!
Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang……
Go, Fight, Win….
-Danu Pramudita-
(Sang Pendaki)

Sabtu, 29 Agustus 2009

Tidak Mudah Untuk Meraih Sukses


Di pagi hari buta, terlihat seorang pemuda dengan bungkusan kain berisi bekal di punggungnya tengah berjalan dengan tujuan mendaki ke puncak gunung yang terkenal.

Konon kabarnya, di puncak gunung itu terdapat pemandangan indah layaknya berada di surga. Sesampai di lereng gunung, terlihat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua.

Setelah menyapa pemilik rumah, pemuda mengutarakan maksudnya “Kek, saya ingin mendaki gunung ini. Tolong kek, tunjukkan jalan yang paling mudah untuk mencapai ke puncak gunung”.

Si kakek dengan enggan mengangkat tangan dan menunjukkan tiga jari ke hadapan pemuda.

“Ada 3 jalan menuju puncak, kamu bisa memilih sebelah kiri, tengah atau sebelah kanan?”

“Kalau saya memilih sebelah kiri?”

“Sebelah kiri melewati banyak bebatuan.” Setelah berpamitan dan mengucap terima kasih, si pemuda bergegas melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian dengan peluh bercucuran, si pemuda terlihat kembali di depan pintu rumah si kakek.

“Kek, saya tidak sanggup melewati terjalnya batu-batuan. Jalan sebelah mana lagi yang harus aku lewati kek?”

Si kakek dengan tersenyum mengangkat lagi 3 jari tangannya menjawab, “Pilihlah sendiri, kiri, tengah atau sebelah kanan?”

“Jika aku memilih jalan sebelah kanan?”

“Sebelah kanan banyak semak berduri.” Setelah beristirahat sejenak, si pemuda berangkat kembali mendaki. Selang beberapa jam kemudian, dia kembali lagi ke rumah si kakek.

Dengan kelelahan si pemuda berkata, “Kek, aku sungguh-sungguh ingin mencapai puncak gunung. Jalan sebelah kanan dan kiri telah aku tempuh, rasanya aku tetap berputar-putar di tempat yang sama sehingga aku tidak berhasil mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan harus kembali kemari tanpa hasil yang kuinginkan, tolong kek tunjukkan jalan lain yang rata dan lebih mudah agar aku berhasil mendaki hingga ke puncak gunung.”

Si kakek serius mendengarkan keluhan si pemuda, sambil menatap tajam dia berkata tegas “Anak muda! Jika kamu ingin sampai ke puncak gunung, tidak ada jalan yang rata dan mudah! Rintangan berupa bebatuan dan semak berduri, harus kamu lewati, bahkan kadang jalan buntu pun harus kamu hadapi. Selama keinginanmu untuk mencapai puncak itu tetap tidak goyah, hadapi semua rintangan! Hadapi semua tantangan yang ada! Jalani langkahmu setapak demi setapak, kamu pasti akan berhasil mencapai puncak gunung itu seperti yang kamu inginkan! dan nikmatilah pemandangan yang luar biasa !!! Apakah kamu mengerti?”

Dengan takjub si pemuda mendengar semua ucapan kakek, sambil tersenyum gembira dia menjawab “Saya mengerti kek, saya mengerti! Terima kasih kek! Saya siap menghadapi selangkah demi selangkah setiap rintangan dan tantangan yang ada! Tekad saya makin mantap untuk mendaki lagi sampai mencapai puncak gunung ini.

Dengan senyum puas si kakek berkata, “Anak muda, Aku percaya kamu pasti bisa mencapai puncak gunung itu! Selamat berjuang!!!

Cerita di atas memberikan pelajaran bagi kita, bahwa tidak mudah untuk mencapai kesuksesan, banyak sekali rintangan dan halangan, dan semua terserah anda yang memilihnya
KESUKSESAN DI TANGAN ANDA!!!! SALAM SUKSES SELALU!!!