


Gunung ini berada di timur laut kota solo, dan dibawah administratife Karanganyar dan Magetan. Ketinggian gunung ini mencapai 3265 mdpl dan puncaknya dikenal dengan nama “Hargo Dumilah”. Gunung ini bias didaki melalui dua titik pendakian yaitu: Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu.
Pada bulan Agustus 2008, bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia ke 63 tahun team Lintas Alam berjumlah 4 orang yakni: arie kappe, arthum, luwen, genta asal Solo melakukan pendakian ke Gunung Lawu dengan misi pengibaran Sang Merah Putih di puncak “Hargo Dumilah” (ceileh…).
Awal perjalanan dimulai dari kota Bandung, tanggal 15 agustus 2008 paginya kami mulai mempersiapkan logistic dan perlengkapan lainnya untuk mendaki gunung. Setelah sholat magrib kami bergegas menuju terminal cichaheum, akhirnya kami naek bus bandung exspress dengan ongkos Rp.90.000,-. Dari terminal cichaheum kami berangkat jam 8 malam nyampe di kota Solo jam 9 pagi (lama bgt y, karena busnya melewati kota semarang capee DeHh….). kemudian dari kota solo kami melanjutkan naek bus jurusan Tawang mangu dengan ongkos Rp.8000,-. Dilanjutkan lagi dari tawang mangu ke Cemoro sewu memakai kendaraan L300 atau ELF dengan tariff Rp.6000,-, sesampai di Cemoro sewu kami istirahat sejenak mengisi perut yang sudah lapar dan mengisi persedian air minum untuk pendakian.
Pukul 2 siang kami memulai perjalanan dari gerbang Cemoro sewu dengan membayar retribusi sebesar Rp.5000,-/perorang. Kami mulai perjalanan ini setapak demi setapak (berat bahasanya coy…), dari gerbang cemoro sewu ke pos 1(Wesen-Wesen) kurang lebih 2,9 km jalanan setapak masih bagus dan tanjakan belum begitu curam. Pos ini tidak terdapat sumber mata air. Setelah melewati pos 1 jalan setapak masih berupa batu-batu, dan setelah berjalan dengan jarak kurang lebih 5,2 km akan sampai di pos 2 yang disebut juga dengan pos (Watu Gedeg) tidak di temukan sumber air. Dari pos 2 menuju ke pos 3 jalur berbatuan curam dan menajak, dijalur ini banyak asap belerang jadi jangan lama-lama beristirahat disini. Di pos 3 menuju pos 4(Watu Kapur) jalur menanjak, merangkak pada bebatuan. Hari semakin sore angin mulai berhembus kencang, perjalanan mulai terganggu untung saja cuaca sangat bagus sehingga tidak terjadi badai. Kami terus melanjutkan perjalanan dengan cuaca yang sangat dingin sekali dan hari pun semakin gelap untung saja lagi terang bulan, bulan purnama menerangi perjalanan kami sehingga membantu dalam penerangan perjalanan kami(menghemat daya lampu senter). Kami sampai di pos 4 pukul 7 kurang 10 menit malam, Pos 4 Cuma berupa tempat datar yang sempit di cerukan tebing batu, Cuma cukup untuk satu tenda, tempat ini lumayan terlindungi dari angin. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju pos 5(Jolo Tundo) pos ini merupakan pos terakhir dan perada pada sebuah areal terbuka yang bisa ditempati beberapa tenda. Disini terdapat sumber mata air keramat bagi masyarakat sekitar, dari disini juga kita bisa melihat sunrise.
Disinilah kami mendirikan tenda tidak jauh dari sumur Sendang Derajat, kira-kira jam 9 malam lalu kami memasak untuk makan malam, setelah makan malam cuaca semakin dingin kami mulai membuka sleeping beg untuk memulai tidur. Pada pukul 2 pagi dua orang team Lintas Alam keluar dari tenda untuk melihat gerhana bulan(indah bgt bro..) lalu tidur kembali. Jam 5 pagi kami bangun untuk melihat sang fajar keluar dari peraduan(sunrise maksudnya…!?#), lalu kami foto-foto gitu deh narsisnya mulai keluar.
Setelah selesai berfoto kami melanjutkan perjalanan menuju puncak namun kami tidak membaya perlengkapan hanya membawa air minum saja, perlengkapan kami tinggal di pos5. Akhirnya kami sampai di puncak tertinggi Gunung Lawu yaitu puncak”Hargo Dumilah” dengan ketinggian 3265m dpl. Di puncak begitu rame sehingga berebutan untuk foto-foto di tugu puncaknya. Disinilah kami memperingati HUT RI ke 63 merDekaA…………………..?!(semoga Indonesia lebih baik dari tahun ke tahun).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar